WELCOME

This is not profesional blog. Just share and learn together. For optimum display please use google chrome browser. Thanks for visiting

Kamis, 04 Oktober 2012

Media Penyalur Energi listrik pada RTGC

Ada 4 macam media penyalur energi listrik yang umum digunakan pada RTGC, diantaranya adalah :


  • Kabel reeling drum system 

Kabel  reeling  drum  adalah  berupa  gulungan  kabel  yang
diletakkan pada drum dengan  menggunakan motor listrik untuk sistem
penggulungannya.

Sistem  kabel  reeling  drum  ini  dilengkapi  motor  listrik  untuk 
menarik  dan  mengulur  kabel,  serta  rangkaian  kontrol  untuk 
sinkronisasi.    Untuk  area-area  tertentu  dibutuhkan  IP  (index 
protection) minimal 65. 
Karena  menggunakan  motor  listrik  tersebut,  ditinjau  dari 
kelistrikan,  sistem  ini  dinilai  kurang  ekonomis  karena membutuhkan 
konsumsi  power.  Disamping  itu  belitan-belitan  kabel  yang  banyak 
akan  dikhawatirkan  timbulnya induksi medan  magnet yang dapat menganggu
 kontrol listrik lainnya/ interference.  Meskipun  demikian 
untuk  lokasi  kerja  tertentu  sistem  ini  tetap  digunakan,  contoh  untuk 
pergerakan naik  turun pada  lubang  yang  sempit  seperti yang  terdapat 
pada beberapa mesin di PT. Krakatau Steel Cilegon. 

  •  Kabel festoon 

Sistem  kabel  festoon  adalah  umumnya  berupa  lengkunganlengkungan
  kabel  pipih  yang  bisa  bergeser  ke  kanan  dan  ke  kiri 
menggunakan  bantuan  bearing  dan  rel.  Meskipun  demikian  kabel 
festoon  juga  ada  yang  berupa  kabel  bulat  seperti  yang  ada  gambar 
dibawah.

Ditinjau  dari  ilmu  kelistrikan  sistem  ini  dinilai  kurang 
menguntungkan,  karena  panjangnya  kabel  dari  ukuran  travel 
sebenarnya,  karena  sistem  ini membutuhkan  lengkungan  kabel  lebih 
untuk safety factor. Yang mana  telah kita  tahu dalam  ilmu kelistrikan 
disebutkan  bahwa  R  (hambatan)  berbanding  lurus  dengan  panjang 
penghantar,  artinya  semakin panjang kabel maka  akan  semakin besar 
pula rugi dayanya. Namum demikian, system ini hampir banyak digunakan, 
mengingat sistem ini yang relatif simple dalam pemasangan  dan awet.  Untuk kabel
 kontrol dan kabel daya kabelnya tidak bisa dijadikan jadi 
satu,  cara  pemasanganya  adalah  disejajarkan  seperti  yang  ada  pada 
gambar dibawah ini. 





  • Kabel busbar

Contoh dari kabel busbar  adalah  seperti  yang  ada pada  gambar 
dibawah ini

Seperti  yang  terlihat  pada  gambar,  kabel  busbar adalah berupa sikat sikat
yang digesekkan pada konduktor beraliran arus listrik.
Salah  satu  keunggulan  kabel  busbar  yang  tidak  bisa  digantikan  oleh 
sistem media transfer energi listrik lain adalah, dalam satu sistem kabel busbar bisa
digunakan untuk melayani beberapa beban/ crane.
Namum demikian, ditinjau dari segi kelistrikan sistem ini dinilai 
relatif    berbahaya  bagi  keselamatan  pekerja  yang  ada  disekitarnya. 
Sistem ini dinilai rentan terhadap kejutan listrik dan konsleting, bahkan 
untuk  area  berbahaya  seperti  daerah  yang  explosion  proof  sistem  ini 
dilarang  untuk  digunakan. Gambar  aplikasi  kabel  busbar  pada  crane 
adalah seperti dibawah ini :




  • Energi chain system 

Ada  beberapa macam  sebutan  untuk  energi  chain  system  yang 
digunakan  oleh  masyarakat (pasaran),  diantaranya  adalah  kabel  tray,  
kabel carrier,  tempat  kabel  dan  kabel  drag  chain.  Secara  sepintas  energi 
chain system adalah seperti kabel tray, hanya saja energy chain system 
ini bisa dibengkokkan, dengan demikian akan memungkinkan sebagai 
tempat kabel untuk mesin yang bergerak (moving)
Pada energi chain system ini semua kabel dapat ditempatkan jadi 
satu  baik  itu  kabel  power,  kabel  kontrol  bahkan  hose  untuk  hidrolik 
atau pneumatik. Sehingga energy chain system ini dinilai efektif untuk 
transfer  tenaga  listrik  untuk  mesin-mesin  besar  yang  membutuhkan 
banyak kabel seperti mesin RTG crane.

Ditinjau  dari  segi  kelistrikan,  sistem  ini  dinilai  sangat  efisien 
untuk  mereduksi  kerugian  daya  maupun  kemungkinan  timbulnya 
medan magnet. Karena  sistem  ini kabel  yang  ada  tidak digulung dan 
panjang kabel yang dibutuhkannya pun hanya setengah dari travel dari 
pergerakan mesin. Namun demikian, system ini belum terlalu banyak digunakan dan agak
jarang kita jumpai.
























»»  Baca Selengkapnya...

Rangkaian Kontrol Listrik



  1.  Pengertian Kontrol Listrik 

Mesin  listrik  modern  terdiri  dari  tiga  bagian  terpisah  yang
perlu untuk diketahui. Pertama mesin  itu  sendiri, yang dirancang
untuk  melakukan  pekerjaan  tertentu  sesuai  dengan  yang
dikehendaki.  Kedua  adalah  motor  listrik,  yang  dipilih  sesuai
dengan  kapasitas mesin. Dan  yang  ketiga  adalah  sistem  kontrol
atau  pengendalinya.  Sebuah  sistem  kontrol  dirancang  untuk
mengoperasikan  motor  dan  mesin.  Bila  suatu  mesin  hanya
memerlukan untuk  start, berputar untuk beberapa saat, kemudian
stop, kontrol yang dibutuhkan cukup hanya dengan menggunakan
saklar toggle. Akan tetapi bila suatu mesin memerlukan  beberapa
pengoperasian otomatis, seperti run beberapa saat, kemudian stop
sebentar dan lalu run lagi (cycle nya berulang), rangkaian kontrol
yang dibutuhkan adalah menggunakan  sebuah  rangkaian   kontrol
yang terintegrasi.
Kata kontrol berarti mengendalikan atau mengatur, jadi ketika
kita  bicara  tentang  kontrol  motor  atau  mesin,  kita  membahas
mengenai  pengendalian  dan  pengaturan  fungsi  dari  motor  atau
mesin  tersebut.  Ketika  diaplikasikan  pada  motor,  kontrol  listrik
 melakukan  beberapa  fungsi  seperti  starting,  pengatur  kecepatan,
sistem proteksi, putar balik dan stoping.
Berbagai  perlengkapan  yang  dipergunakan  untuk
mengendalikan fungsi motor listrik tersebut disebut sistem kontrol
atau  kontrol  komponen. Masing-masing  type  kontrol  komponen
tersebut akan dibahas kemudian seperti dibawah ini :


  • Kontrol Manual 

Manual  kontrol  hanya  mempunyai  pengendalian    yang
dilakukan  oleh  tangan,  contohnya  seperti  gambar  dibawah  ini
.    Barangkali  kontrol  tersebut  paling  banyak  kita
jumpai pada pengendali motor dengan daya yang rendah. Kontrol
ini  sering digunakan   ketika hanya mengendalikan    fungsi motor
untuk start dan stop saja.
Ini  adalah  contoh  sederhana  dari  kontrol  manual.  Pastinya 
banyak  kekurangan  dari  pengontrolan  secara  manual  ini,  akan 
tetapi  ada  hal  yang  membuat  sistem  ini  masih  digunakan  yaitu 
sistem  ini    mempunyai  sedikit  permasalahan  kerusakan  karena 
tidak  adanya  instrument  lain  untuk  fungsi  kontrol  automation, 
disamping  itu  biaya  untuk  pembuatan  kontrol  seperti  ini  sangat 
murah  dibanding  sistem  kontrol  lainnya.  Sebuah  kontrol manual 
hanya  memerlukan  seorang  operator  untuk  memindah  toggle 
switch  atau  menekan  pushbutton  untuk  mengoperasikan  atau 
mematikan mesin. 

  • Kontrol Semiautomatis 

Kontrol  semiautomatis  menggunakan  saklar  magnetik  dan 
beberapa  perangkat  lainnya  seperti  pushbutton,  saklar  toggle, 
drum  switches  dan  perangkat  serupa  lainnya.  Akan  tetapi  yang 
sering  digunakan  adalah  pushbutton  karena  sangat  compact  dan 
relative murah, contohnya seperti gambar 2.2. 
Kontrol  semiautomatis  yang  paling  utama  digunakan  karena 
memberikan keluwesan, praktis  serta  aman dibandingkan dengan 
kontrol  manual.  Sebuah  sistem  kontrol  yang  mempergunakan 
perangkat saklar magnetik dikategorikan ke dalam sistem kontrol 
automatis. Dalam  type  pengontrolan  seperti  ini  penyaluran  daya 
listrik  ke  beban  tidak  dilakukan  langsung  secara  manual, 
melainkan  menggunakan  magnetik  kontaktor.  Operator  hanya 
menekan  tombol  pushbutton  sebagai  rangkaian  kontrolnya, 
kemudian  saklar magnetik  atau biasa disebut magnetik kontaktor 
akan on dan menyalurkan daya  listrik ke beban melalui kontak  - 
kontaknya.  
Sebagai  sistem  proteksi  biasanya  adalah  dengan 
menggunakan  thermal  overload,  yang  cara  kerjanya  adalah 
apabila  arus  yang  melewati  overload  tersebut  melebihi  batas 
penyetingan  maka  akan  trip  dan  memutus  aliran  arus  listrik  ke 
beban.  Dengan  demikian  tingkat  keamanan  dari  bahaya  listrik 
bagi orang dan peralatan itu sendiri lebih terjamin.

  • Kontrol Automatis 

Dalam  bentuk  yang  paling  sederhana,  sebuah  kontrol 
automatis  adalah magnetic  starter  atau  kontaktor  yang  dikontrol 
(dikendalikan)  oleh  satu  atau  lebih  perangkat  switch  otomatis 
seperti  limit  switch,  proximity  switch,  timer  dan  lain  –  lain. 
Perangkat  switch  otomatis  tersebut  adalah  sebagai  sumber 
informasi untuk mengendalikan sistem rangkaian.  
Sebagai contoh thermostat, level switch, pressure switch atau 
flow  switch  dapat  digunakan  untuk  menyediakan  informasi 
variable  process  pengontrolan.  Temperature,  liquid  level, 
pressure dan flow switch adalah beberapa contoh variable process 
untuk  mengontrol  magnetic  starter  atau  kontaktor  dan  tentunya 
motor  listrik. Gambar  2.3  di  bawah  ini  adalah  contoh  sederhana 
dari kontrol automatis.
Dalam kontrol automatis, dikenal istilah  kontrol loop tertutup 
dan  kontrol  loop  terbuka.  Kontrol  loop  terbuka  masih 
menggunakan  sistem  kontrol  manual  dimana  seorang  operator
 memberikan keputusan, seperti kapan motor akan start dan kapan 
motor  akan  stop,  sebagai  contoh  masih  menggunakan  switch 
untuk  melakukan  perintah  motor  start  dan  stop.  Kontrol  loop 
tertutup  dicontohkan  oleh  kontrol  level  switch  untuk  mengatur 
liquid (cairan ) dalam tank. 
Gambar blok diagram dari loop tertutup dapat dilihat pada gambar 
2.4 dibawah ini :
Dalam sistem  loop  tertutup, seperti yang di  ilustrasikan pada 
gambar  2.4  tersebut,  dapat  kita  lihat  feedback  (umpan  balik) 
informasi mengenai  proses  parameter  (sebagai  contohnya  adalah levelnya),  
dan  perbandingan  informasi  menggunakan  reference 
(untuk mengatur  level  liquid yang diinginkan),  sebuah keputusan 
dapat  dilakukan  oleh  error  detector  dengan  maksud  ketika 
controlling  means  (magnetic  starter  dan  motor)  harus  di  start 
untuk menaikkan  level  liquid  dalam  tanki. Dalam  sebuah  sistem 
kontrol loop tertutup, dapat diketahui dengan jelas melalui proses 
kontrol  itu  sendiri  dengan  adanya  feedback  (umpan  balik)    dari 
kondisi pengontrolan tersebut.  
Perbedaan dasar antara kontrol manual, kontrol semiautomatis 
dan  kontrol  automatis  adalah  terletak  pada  tingkat  flexibilitinya. 
Pada  kontrol  manual,  operator  harus  melakukan  pengoperasian 
mesin (motor listrik) secara langsung dengan tangan dalam hal ini 
maksudnya adalah menyalurkan  tenaga listrik ke beban.  Dengan 
kontrol semiautomatis dimana tidak memerlukan seorang operator 
untuk  langsung menyalurkan  tenaga  listrik  ke  beban, melainkan 
sistem  kendalinya  dapat  ditempatkan  pada  lokasi  yang  nyaman 
sesuai  dengan  yang  kita  kehendaki.  Dalam  kontrol  automatis, 
operator  tidak  perlu  banyak  melakukan  apapun  untuk 
mengoperasikan mesin,  karena  sistem  input  perintah-perintahnya 
telah dilakukan oleh kendali otomatis.  
Pada  industri  pabrik modern  sebuah  kontrol  automatis  yang 
digunakan, seorang operator hanya perlu melakukan starting awal 
dan stop, untuk kemudian mesin akan beroperasi secara otomatis.  
Pengoperasian mesin otomatis bergantung pada proses pembuatan 
dan  fungsi  dari  mesin  tersebut,  atau  kombinasi  dari  keduanya. 
Sebuah  sistem  kontrol  automatis  pada  industri  memerlukan 
kontrol  komponen  yang  terintegrasi.  Sebuah  kontrol  automation 
 pada  industri  terdiri  dari  sistem  elektrikal,  elektronik,  fluida, 
hydraulik, dan perangkat pneumatik.  Sebuah sistem kontrol yang 
terintegrasi memanfaatkan berbagai variasi yang  luas dari sebuah 
perangkat  analog dan digital  elements  serta menggabungkan dari 
berbagai fungsi modul sesuai dengan yang dipersyaratkan. 














»»  Baca Selengkapnya...

Rabu, 03 Oktober 2012

Pengenalan RTGC (Rubber Tyred Gantry Crane)

RTGC  adalah  salah  satu  jenis  crane  yang 
ada di dunia  yang digunakan untuk keperluan  industri. Ada beberapa 
manufacturing  pembuat  Rubber  Tyred  Gantry  Crane,  salah  satunya 
adalah  dari China  yaitu ZPMC  seperti  yang  terpasang  di PT.  Jakarta 
International Container Terminal, RTGC no. 33.
Spesifikasi dari RTGC  ini  adalah panjang 
±30 meter, lebar ± 10 meter dan tinggi ± 40 meter. Crane ini didesign 
untuk mengangkat  container  dengan  ukuran  panjang  20  feet,  40  feet 
dan 45 feet dengan beban maksimum 41 ton. Crane ini juga dilengkapi 
beberapa AC inverter untuk mengendalikan motor-motor listrik utama, 
diantaranya adalah : 

  • Satu AC  inverter  type VS686CR5 untuk mengendalikan 
hoist  motor  3    170  KW  dengan  kecepatan  antara  22 
sampai  55  meter  per  menit  bergantung  kepada  beban 
yang  diangkat.  Tinggi  maksimum  yang  dapat  diangkat 
motor hoist ini adalah 17,75 meter dari permukaan tanah. 
  •   Empat AC  inverter  type VS616G5 untuk mengendalikan 
empat buah gantry  motor 3 50 KW dengan kecepatan 
antara 25 sampai 90 meter per menit. Empat buah gantry 
motor  ini  berfungsi  untuk  menggerakkan  empat  buah roda  RTGC yang  terletak  di  ke 
empat sisinya.
  • Satu  AC  inverter  type  VS616G5  untuk  mengendalikan 
troley motor  3  25 KW  dengan  kecepatan maksimum 
70 meter  per menit.  Fungsi  dari  troley motor  ini  adalah 
untuk menggerakkan hoist ke kanan dan ke kiri.

Crane ini juga dibuat sedemikian rupa untuk mengurangi ayunan 
saat  mengangkat  beban,  mempercepat  dan  mengurangi  pergerakan. 
Crane  ini  juga  dilengkapi  CMS  (crane  monitoring  system)  untuk 
membantu teknisi menemukan secara cepat penyebab gagalnya operasi 
crane. 

Komponen utama Rubber Tyred Gantry Crane 
  • Generator set 
Generator yang digunakan adalah caterpillar 3412C engine dan 
generator SR4B kapasitas 725 KVA 397 KW 460 volt 50 Hz. 
Generator ini juga dilengkapi Electronic Modular Control Panel 
(EMCP)  yang  memungkinkan  genset  ini  dicontrol  dari  luar 
ruang mesin. 
  • Panel kontrol utama 
•  Master control device, panel berisi  satu  set  system  I/O 
module dan beberapa control relay. Panel ini melakukan 
tugas utama pengendali pergerakan crane. 
•  Auxiliary  system  power  feeder,  panel  ini  berisi 
tambahan  bagian  control  seperti  lighting  (lampu,  AC, 
heater dan lain-lain.
•  Drive  system,  Panel  ini  berisi Ac  inverter  dan  control 
yang  berhubungan  dengan  sistem  pergerakan  hoist, 
troley dan gantry.
Panel tersebut diatas, terletak pada ruang electric.
  • Resistor box 
Dua  set  dari  resistor  box  berada  diatas  ruang  electric,  yang 
mana didalamnya berisi brake  resistor. Fungsi dari  resistor  ini 
adalah menyerap  tegangan yang ditimbulkan oleh motor hoist, 
troley motor dan gantry motor saat over speed. 
  • Cabin distibuted box 
Panel  ini  berisi  control  untuk  wiper,  washer,  sirine,  air 
conditioning, phone calling, warning system dan lain-lain.
  • Transformer 70 KVA 
Trafo ini merupakan trafo step down, input tegangan 440 VAC 
dan output tegangan 400/230 VAC. Trafo ini diletakkan diatas 
ruang electric bersebelahan dengan resistor box. 
  • Operator’s console 
Operation  control  terletak  pada  kabin  operator,  yang  mana 
pusat  utama  control  crane  terletak  disini.  Didalamnya  berisi 
tombol-tombol operasi dan juga monitor display. 

System proteksi Rubber Tyred Gantry Crane 
  • Push button emergency stop 
Crane  ini  dilengkapi  tombol  emergency  stop,  yang  apabila 
ditekan  crane  ini  akan  berhenti  beroperasi. Letak  penempatan 
tombol emergency stop tersebut diantaranya adalah :
•  Didalam ruang electric 
•  Diluar ruang electric 
•  Diluar ruang mesin 
•  Disisi depan dan belakang troley motor 
•  Didalam kabin operator
  • Limit switch emergency stop 
Limit  switch  dipasang  pada  hoist,  troley  dan  gantry  untuk mencegah 
kerusakan dan bahaya  yang mungkin  timbul. Limit  switch digunakan 
untuk  mencegah  over  travel  baik  itu  untuk  sistem  mekanis  hoist, 
gantry maupun troley
  • Hoist over speed switch 
Hoist drive diamankan oleh sebuah switch over speed. Bila kecepatan 
hoist  saat  spreader  kosong melampui  115 %  dari  kecepatan  normal, 
maka switch ini akan bekerja dan hoist akan berhenti. 
  • Load measuring device 
Crane  ini  juga  dilengkapi  dengan  alat  pengukur  beban  yang  disebut 
load cell device. Load cell device ini terdiri dari 4 sensor yang terletak 
pada  troley. Bila  total beban melebihi 25 % dari  total  yang diijinkan 
yaitu  41  ton, maka  alat  ini  akan memberikan  pesan  kepada  operator 
melalui LCD monitor

Gambar foto Rubber Tyred Gantry Crane 
 Untuk melengkapi pengenalan mengenai Rubber Tyred Gantry 
Crane,  dalam  postingan   ini  disertakan  juga  foto-foto  Rubber 
Tyred  Gantry  Crane  yang  diambil  saya  sendiri  pada  saat melakukan kerja praktek dan juga foto-foto pendukung lainnya. 















»»  Baca Selengkapnya...

Selasa, 02 Oktober 2012

Dasar dasar pengalamatan PLC siemens S7-300 

Pengalamatan S7-300 PLC Siemens :

1. Alamat Input
Input pada PLC dimulai dari alamat I0.0 sampai I65535.7. 

2. Alamat Output
Sedangkan outputnya dimulai dari alamat Q0.0 sampai dengan Q65535.7

3. Alamat Memory
Selain alamat input dan output, S7-300 PLC Siemens ini menyediakan lokasi
memori yang berbeda – beda, dengan pengalamatan yang sangat unik. Kita
dapat memilih memori mana yang akan kita pakai dengan terlebih dahulu
memilih spesifikasi alamat, yang meliputi Memory area, address Byte-nya dan
Bit numbernya. Memory area pada PLC ada 5 macam yaitu : I, Q V dan M yang
semuanya itu dapat diakses sebagai Byte, Word ataupun Double Word.
Contoh penulisan pengalamatan baik input/output maupun memory address :

∗ Addressing Input Register (I) :
Format :
Bit I[alamat byte].[alamat bit] = I124.0
Byte, Word, Double Word I[tipe][awal alamat byte] = IB4

∗ Addressing Output Register (Q) :
Format :
Bit Q[alamat byte].[alamat bit] = Q124.0
Byte, Word, Double Word Q[tipe][awal alamat byte] = QW4

∗ Addressing Variabel Memory area (V) :
Format :
Bit V[alamat byte].[alamat bit] = V124.0
Byte, Word, Double Word V[tipe][awal alamat byte] = VDW4

∗ Addressing Bit Memory area (M) :
Format :
Bit M[alamat byte].[alamat bit] = M25.7
Byte, Word, Double Word M[tipe][awal alamat byte] = MD20

Pemrograman PLC Siemens
Dalam PLC Siemens, terdapat beberapa instruksi fungsi yang dapat kita gunakan
untuk membantu kita dalam membuat suatu program, antara lain :

− Bit Logic
Instruksi Bit logic bekerja dengan dua keadaan, yaitu 1atau 0. Logic 1
menandakan aktif dan logic 0 menandakan tidak aktif.
Berikut ini macam – macam fungsi instruksi bit logic :

􀂃 --| |-- Normally Open Contact
Instruksi di atas digunakan apabila kita ingin memasukkan input yang
keadaan normalnya adalah terbuka.
Simbol
<address>
--| |--
Penjelasan :
Address di atas dimulai dari I0.0 sampai I65535.7 ataupun juga dapat diisi
alamat instruksi lainnya, misalnya Counter. Normally Open Contact akan
menjadi tertutup (Closed) ketika nilai bit dari address bernilai “1“.
Contoh Aplikasi :


Penjelasan :
Nilai akhir pengoperasian bernilai “1“ jika sinyal input I124.0 dan I124.1
bernilai “1“ atau hanya sinyal dari input I124.2 saja yang bernilai “1’.

􀂃 --| / |-- Normally Closed Contact
Instruksi di atas digunakan apabila kita ingin memasukkan input yang
keadaan normalnya adalah tertutup.
Simbol
<address>
--| / |--
Penjelasan :
Address diatas dimulai dari I0.0 sampai I65535.7 ataupun juga dapat diisi
alamat instruksi lainnya, misalnya Counter. Pada normally closed contact,
saat address bernilai “0“ saklar sudah tertutup sehingga nilai
pengoperasiannya bernilai “1“, sedangkan untuk pemberian logic “1“ pada
saklar akan membuat saklar menjadi terbuka sehingga nilai akhir
pengoperasiannya bernilai “0“.
Contoh Aplikasi :


Penjelasan :
Nilai akhir pengoperasian bernilai “1“ jika sinyal input I 124.0 dan I124.1
bernilai “1“ atau hanya sinyal dari input I124.2 saja yang bernilai “0“.

􀂃 --| NOT |-- Invert Power Flow
Instruksi di atas digunakan apabila kita ingin membalik suatu keadaan,
misalnya dari 0 menjadi 1 atau dari 1 menjadi 0.
Simbol
--| NOT|--
Penjelasan :
Fungsi dari --| NOT |-- adalah sebagai pembalik nilai sinyal dari input.
Contoh Aplikasi :


Penjelasan :
Nilai sinyal output Q124.0 bernilai “0“ saat kondisi input I124.0 bernilai
“1“ atau input I124.1 dan I124.2 bernilai “1“, sedangkan Nilai sinyal
output Q124.0 bernilai “1“ saat kondisi input I124.0 bernilai “0“ atau input
I124.1 dan I124.2 bernilai “0“

􀂃 --( ) Output Coil
Instruksi di atas digunakan apabila kita ingin memberikan sebuah output.
Simbol
<Address>
--( )
Penjelasan :
Instruksi tersebut dipasang pada akhir network dan statusnya dipengaruhi
oleh instruksi-instruksi yang ada di depannya.
Address diatas dimulai dari Q0.0 sampai Q65535.7.
Contoh Aplikasi :

Penjelasan :
Nilai sinyal output Q124.0 bernilai “1“ jika sinyal input I 124.0 dan I124.1
bernilai “1“ atau hanya sinyal inoput I 124.2 bernilai “0“. Sedangkan untuk
sinyal output Q124.1 akan bernilai “1“ jika sinyal input I124.0 dan I124.1
bernilai “0“ atau hanya sinyal input I124.2 bernilai “1“.

􀂃 --( # )—Midline Output
Instruksi di atas digunakan apabila kita ingin membuat output yang
terletak di tengah.
Simbol
<address>
--( # )—
Penjelasan :
Instruksi tersebut dipasang pada pertengahan network dan statusnya
dipengaruhi oleh instruksi-instruksi yang ada di depannya.
Address diatas dimulai dari M0.0 sampai M65535.7.
Contoh Aplikasi :

Penjelasan :
Pada ladder di atas, status output M0.0 akan aktif bila kedua saklar I1.0
dan I1.1 aktif. Sedangkan status output Q4.0 akan akan aktif bila ketiga
saklar I1.0, I1.1 dan I1.2 aktif.

􀂃 --( R ) Reset Coil
Instruksi reset digunakan bila kita ingin mereset status sebuah bit, baik
keluaran (output) maupun timer ataupun counter.
Simbol
Penjelasan :
Instruksi tersebut dipasang pada akhir network dan statusnya dipengaruhi
oleh instruksi-instruksi yang ada di depannya.
Address diatas diisi dengan address dari output/timer/counter yang ingin
kita reset.
Contoh Aplikasi :

Penjelasan :
Output Q124.0 akan aktif dan bernilai “1“ jika nilai input I124.0 bernilai
“1“. Jika inputan I124.1 aktif atau bernilai “1“ maka reset akan aktif dan
akan mereset alamat Q124.0 sehingga nilainya berubah menjadi “0“
meskipun input I124.0 yang mengaktifkannya masih aktif.

􀂃 --( S ) Set Coil
Instruksi reset digunakan bila kita ingin mengeset status sebuah bit, baik
keluaran (output) maupun timer ataupun counter.
Simbol
Penjelasan :
Instruksi tersebut dipasang pada akhir network dan statusnya dipengaruhi
oleh instruksi-instruksi yang ada di depannya.
Address diatas diisi dengan address dari output/timer/counter yang ingin
kita set.
Contoh Aplikasi :


Penjelasan :
Pada contoh di atas, output Q4.0 akan di set bila saklar I0.0 dan I0.1
berlogic atau saklar I0.2 berlogic 0. Output Q4.0 tersebut akan aktif
walaupun saklar yang ada di depannya masih terbuka.

− Timers
Timer merupakan instruksi yang berfungsi memberikan waktu tunda (delay).
Dengan adanya timer, kita dapat mengatur kapan suatu output harus aktif
setelah kita berikan input. Selain itu kita juga dapat mengatur seberapa lama
output tersebut harus aktif.
Macam-macam timer
Berdasarkan cara kerjanya, timer dibagi menjadi beberapa macam, antara
lain:

- S_PULSE

T no.
T no. = no indikasi timer
S = input awal
TV = nilai timer
R = reset
BI = nilai timer dengan format interger
BCD = nilai timer dengan format BCD
Q = status keluaran timer

Penjelasan : Timer akan bekerja ketika input awal (S) bernilai ”1”, dan
lamanya menghitung (delay time) sesuai dengan nilai pada TV . Ketika
timer menghitung dan nilai input awal (S) berubah menjadi “0“ maka
hitungan timer akan berhenti dan hitungannya akan kembali ke awal saat
nilai S menjadi “1“. Nilai sinyal output (Q) akan bernilai “1“ selama timer
menghitung, ketika timer selesai menghitung nilai Q akan berubah menjadi
“0“. Timer akan di-reset (timer bernilai ”0”) ketika nilai Reset (R) bernilai
”1”.
Nilai timer dapat juga menggunakan BI yaitu kode biner atau dengan BCD
yaitu kode BCD.
Contoh aplikasi :

Penjelasan : Jika sinyal input (I124.0) bernilai ”1” maka timer T5 akan
memulai hitungannya. Timer akan menghitung selama 2 detik selama nilai
input (I124.0) bernilai ”1”. Jika nilai nilai input (I124.0) berubah dari “1“
ke “0“ maka hitungan timer akan berhenti. Jika nilai input (I124.1)
bernilai “1“ saat timer menghitung maka hitungan akan berhenti dan
timer T5 bernilai “0“ (di-reset). Nilai output (Q124.0) benilai “1“ ketika
timer menghitung, jika telah selesai menghitung nilai output akan menjadi
“0“ seperti saat di-reset.

- S_PEXT (Extended Pulse Timer)

T no.
T no. = no indikasi timer
S = input awal
TV = nilai timer
R = reset
BI = nilai timer dengan format interger
BCD = nilai timer dengan format BCD
Q = status keluaran timer

Penjelasan : Timer akan bekerja ketika input awal (S) bernilai ”1”. Timer
akan terus menghitung sampai nilai timer (TV) habis walaupun nilai input
awal (S) berubah nilai menjadi ”0” ketika ditengah – tengah hitungan.
Ketika timer menghitung dan nilai input awal (S) berubah menjadi “0“ dan
berubah lagi menjadi “1“ maka hitungan akan dimulai dari awal lagi. Nilai
sinyal output (Q) akan bernilai “1“ selama timer menghitung, ketika timer
selesai menghitung nilai Q akan berubah menjadi “0“.Timer akan di-reset
(timer bernilai ”0”) ketika nilai Reset (R) bernilai ”1”.
Nilai timer dapat juga menggunakan BI yaitu kode biner atau dengan BCD
yaitu kode BCD.
Contoh aplikasi :

Penjelasan : Jika sinyal input (I124.0) bernilai ”1” maka timer T5 akan
memulai hitungannya. Timer akan menghitung selama 2 detik walaupun
nilai input (I124.0) telah berubah menjadi “0“. Jika nilai input (I124.0)
berubah dari ”0” menjadi ”1” sebelum hitungan timer selesai maka timer
akan menghitung lagi dari awal. . Jika nilai input (I124.1) bernilai “1“ saat
timer menghitung maka hitungan akan berhenti dan timer T5 bernilai “0“
(di-reset). Nilai output (Q124.0) benilai “1“ ketika timer menghitung, jika
telah selesai menghitung nilai output akan menjadi “0“ seperti saat direset.


- S_ODT (On Delay Timer)

T no.
T no. = no indikasi timer
S = input awal
TV = nilai timer
R = reset
BI = nilai timer dengan format interger
BCD = nilai timer dengan format BCD
Q = status keluaran timer

Penjelasan : Timer akan bekerja selama input awal (S) selalu bernilai ”1” ,
jika saat menghitung (S) berubah dari nilai ”1” menjadi ”0” maka hitungan
timer akan berhenti. Ketika timer menghitung dan nilai input awal (S)
berubah menjadi “0“ dan berubah lagi menjadi “1“ maka hitungan akan
dimulai dari awal lagi. Nilai sinyal output (Q) saat timer menghitung
adalah ”0”, jika telah selesai menghitung nilai Q berubah menjadi ”1”.
Timer akan di-reset (timer bernilai ”0”) ketika nilai Reset (R) bernilai ”1”.
Nilai timer dapat juga menggunakan BI yaitu kode biner atau dengan BCD
yaitu kode BCD.
Contoh aplikasi :

Penjelasan : Jika sinyal input (I 124.0) bernilai ”1” maka timer T5 akan
memulai hitungannya. Timer akan menghitung selama 2 detik selama nilai
input (I124.0) bernilai ”1”. Nilai output (Q124.0) benilai “0“ ketika timer
menghitung, jika telah selesai menghitung nilai output akan menjadi “1“.
Jika nilai input (I124.0) berubah dari “1“ menjadi “0“ maka timer akan
berhenti dan nilai output (Q124.0) menjadi “0“. Jika nilai input (I124.1)
bernilai “1“ saat timer menghitung maka hitungan akan berhenti dan
timer T5 bernilai “0“ (di-reset).


- S_ODTS (Retentetive On Delay Timer)

T no.
T no. = no indikasi timer
S = input awal
TV = nilai timer
R = reset
BI = nilai timer dengan format interger
BCD = nilai timer dengan format BCD
Q = status keluaran timer

Penjelasan : Timer akan bekerja ketika input awal (S) bernilai ”1”. Timer
akan terus menghitung sampai nilai timer (TV) habis walaupun nilai input
awal (S) berubah nilai menjadi ”0” ketika ditengah – tengah hitungan.
Ketika timer menghitung dan nilai input awal (S) berubah menjadi “0“ dan
berubah lagi menjadi “1“ maka hitungan akan dimulai dari awal lagi. Nilai
sinyal output (Q) akan bernilai “0“ selama timer menghitung, ketika timer
selesai menghitung nilai Q akan berubah menjadi “1“.Timer akan di-reset
(timer bernilai ”0”) ketika nilai Reset (R) bernilai ”1”.
Nilai timer dapat juga menggunakan BI yaitu kode biner atau dengan BCD
yaitu kode BCD.
Contoh Aplikasi :

Penjelasan : Jika sinyal input (I124.0) bernilai ”1” maka timer T5 akan
memulai hitungannya. Timer akan menghitung selama 2 detik walaupun
nilai input (I124.0) telah berubah menjadi “0“. Jika nilai input (I124.0)
berubah dari ”0” menjadi ”1” sebelum hitungan timer selesai maka timer
akan menghitung lagi dari awal. Jika nilai input (I124.1) bernilai “1“ saat
timer menghitung maka hitungan akan berhenti dan timer T5 bernilai “0“
(di-reset). Nilai output (Q124.0) benilai “0“ ketika timer menghitung, jika
telah selesai menghitung nilai output akan menjadi “1“.


- S_OFFDT (Off Delay Time)

T no.
T no. = no indikasi timer
S = input awal
TV = nilai timer
R = reset
BI = nilai timer dengan format interger
BCD = nilai timer dengan format BCD
Q = status output timer

Penjelasan : Timer akan bekerja ketika input awal (S) bernilai ”1”. Timer
akan terus menghitung sampai nilai timer (TV) habis walaupun nilai input
awal (S) berubah nilai menjadi ”0” ketika ditengah – tengah hitungan.
Ketika timer menghitung dan nilai input awal (S) berubah menjadi “0“ dan
berubah lagi menjadi “1“ maka hitungan akan dimulai dari awal lagi. Nilai
sinyal output (Q) akan bernilai “1“ selama timer menghitung, ketika timer
selesai menghitung nilai Q akan berubah menjadi “0“.Timer akan di-reset
(timer bernilai ”0”) ketika nilai Reset (R) bernilai ”1”.
Nilai timer dapat juga menggunakan BI yaitu kode biner atau dengan BCD
yaitu kode BCD.
Contoh Aplikasi :

Penjelasan : Jika sinyal input (I124.0) bernilai ”1” maka timer T5 akan
memulai hitungannya. Timer akan menghitung selama 2 detik walaupun
nilai input (I124.0) telah berubah menjadi “0“. Jika nilai input (I124.0)
berubah dari ”0” menjadi ”1” sebelum hitungan timer selesai maka timer
akan menghitung lagi dari awal. Jika nilai input (I124.1) bernilai “1“ saat
timer menghitung maka hitungan akan berhenti dan timer T5 bernilai “0“
(di-reset). Nilai output (Q124.0) benilai “1“ ketika timer menghitung, jika
telah selesai menghitung nilai output akan menjadi “0“ seperti saat direset.


− ---( SP ) Pulse Timer Coil
---( SP )
< Time Value >
T no. = no indikasi timer
Time Value = nilai timer

Penjelasan : Timer akan bekerja selama ada sinyal positif pada input
(”1”). Jika input berubah menjadi ”0” pada saat timer menghitung maka
timer akan berhenti menghitung. Output bernilai ”1” saat timer
menghitung, setelah hitungan selesai nilai timer berubah menjadi ”0”.
Contoh Aplikasi :

Penjelasan : Timer T5 akan bekerja selama input (I124.0) bernilai ”1”.
Timer bekerja selama 2 detik. Jika input nilainya berubah menjadi ”0”
sebelum nilai hitungan timer selesai, maka timer T5 akan berhenti. Sinyal
output bernilai ”1” selama timer bekerja. Jika nilai input (I124.1) bernilai
“1“ saat timer menghitung maka hitungan akan berhenti dan timer T5
bernilai “0“ (di-reset).

− ---( SE ) Extended Pulse Timer Coil
< T no. >
---( SE )
< Time Value >
T no. = no indikasi timer
Time Value = nilai timer

Penjelasan : timer akan mulai menghitung sesuai dengan nilai timer saat
ada inputan awal bernilai positif atau ”1” . Timer akan terus menghitung
walaupun nilai inputan berubah menjadi negatif atau ”0”. Output bernilai
”1” saat timer menghitung, setelah hitungan selesai nilai timer berubah
menjadi ”0”. Ketika timer menghitung dan nilai input awal (S) berubah
menjadi “0“ maka hitungan timer akan berhenti dan hitungannya akan
kembali ke awal saat nilai S menjadi “1“.
Contoh Aplikasi :

Penjelasan : Jika sinyal input (I124.0) bernilai ”1” maka timer T5 akan
memulai hitungannya. Timer akan menghitung selama 2 detik walaupun
nilai input (I124.0) telah berubah menjadi “0“. Jika nilai input (I124.0)
berubah dari ”0” menjadi ”1” sebelum hitungan timer selesai maka timer
akan menghitung lagi dari awal. Jika nilai input (I124.1) bernilai “1“ saat
timer menghitung maka hitungan akan berhenti dan timer T5 bernilai “0“
(di-reset). Nilai output (Q124.0) benilai “1“ ketika timer menghitung, jika
telah selesai menghitung nilai output akan menjadi “0“ seperti saat direset.

− ---( SD ) On-Delay Timer Coil
< T no. >
---( SD )
< Time Value >
T no. = no indikasi timer
Time Value = nilai timer
Penjelasan : Timer akan bekerja selama input awal (S) selalu bernilai ”1” ,
jika saat menghitung (S) berubah dari nilai ”1” menjadi ”0” maka hitungan
timer akan berhenti
Contoh Aplikasi :

Penjelasan : Jika sinyal input (I124.0) bernilai ”1” maka timer T5 akan
memulai hitungannya. Timer akan menghitung selama 2 detik selama nilai
input (I124.0) bernilai ”1”. Nilai output (Q124.0) benilai “0“ ketika timer
menghitung, jika telah selesai menghitung nilai output akan menjadi “1“.
Jika nilai input (I124.0) berubah dari “1“ menjadi “0“ maka timer akjan
berhenti dan nilai output (Q124.0) menjadi “0“. Jika nilai input (I124.1)
bernilai “1“ saat timer menghitung maka hitungan akan berhenti dan
timer T5 bernilai “0“ (di-reset).

− ---( SS ) Retentive On-Delay Timer Coil
< T no. >
---( SS )
< Time Value >
T no. = no indikasi timer
Time Value = nilai timer
Penjelasan : Timer akan bekerja ketika input awal bernilai ”1”. Timer
akan terus menghitung sampai nilai timer habis walaupun nilai input awal
berubah nilai menjadi ”0” ketika ditengah–tengah hitungan. Ketika timer
menghitung dan nilai input awal berubah menjadi “0“ dan berubah lagi
menjadi “1“ maka hitungan akan dimulai dari awal lagi. Timer akan
bernilai ”0” hanya ketika nilai Reset bernilai ”1”.

Contoh Aplikasi :

Penjelasan : : Jika sinyal input (I124.0) bernilai ”1” maka timer T5
akan memulai hitungannya. Timer akan menghitung selama 2 detik
walaupun nilai input (I124.0) telah berubah menjadi “0“. Jika nilai
input (I124.0) berubah dari ”0” menjadi ”1” sebelum hitungan timer
selesai maka timer akan menghitung lagi dari awal. Jika nilai input (I
124.1) bernilai “1“ saat timer menghitung maka hitungan akan berhenti
dan timer T5 bernilai “0“ (di-reset). Nilai output (Q124.0) benilai “0“
ketika timer menghitung, jika telah selesai menghitung nilai output
akan menjadi “1“.

− ---( SF ) Off-Delay Timer Coil
< T no. >
---( SF )
< Time Value >
T no. = no indikasi timer
Time Value = nilai timer

Penjelasan : Timer akan bekerja ketika input awal bernilai ”1”. Timer
akan terus menghitung sampai nilai timer habis walaupun nilai input awal
berubah nilai menjadi ”0” ketika ditengah – tengah hitungan. Ketika timer
menghitung dan nilai input awal berubah menjadi “0“ dan berubah lagi
menjadi “1“ maka hitungan akan dimulai dari awal lagi. Nilai sinyal output
akan bernilai “1“ selama timer menghitung, ketika timer selesai
menghitung nilai output akan berubah menjadi “0“.Timer akan bernilai
”0” ketika nilai Reset bernilai ”1”.
Contoh Aplikasi :

Penjelasan : Jika sinyal input (I124.0) bernilai ”1” maka timer T5 akan
memulai hitungannya. Timer akan menghitung selama 2 detik walaupun
nilai input (I124.0) telah berubah menjadi “0“. Jika nilai input (I124.0)
berubah dari ”0” menjadi ”1” sebelum hitungan timer selesai maka timer
akan menghitung lagi dari awal. Jika nilai input (I124.1) bernilai “1“ saat
timer menghitung maka hitungan akan berhenti dan timer T5 bernilai “0“
(di-reset). Nilai output (Q124.0) benilai “1“ ketika timer menghitung, jika
telah selesai menghitung nilai output akan menjadi “0“ seperti saat direset.

− Counter
Counter mempunyai area memory cadangan dalam CPU. Memory cadangan ini
terdiri dari 16 bit word di tiap-tiap counter. Di diagram ladder di sini
memungkinkan insruksi ini sebanyak 256 counter,
Instruksi counter hanya merupakan fungsi yang dapat diakses dari memory
area.
Nilai counter seharga 0 sampai 999
Macam – macam counter dilihat dari jenis menghitung dan daerah nilai
S_CUD Up-Down Counter
S_CD Down Counter
S_CU Up Counter
---( SC) Set Counter Coil
---( CU) Up Counter Coil
---( CD) Down Counter Coil

􀂃 S_CUD
Symbol

C no. Nama counter
CU input Count up
CD input Count down
S set input untuk menjalankan counter
PV nilai banyaknya menghitung : C#<banyaknya nilai>
R reset input
Q status dari counter

Penjelasan
S_CUD ( Up-Down Counter) mengeset jika nilai S adalah 1. Dan nilai input
untuk CU semisal berubah dari 0 ke 1 dan nilai tersebut tidak lebih dari
”999“. Namun untuk CD, counter akan mengurangi penghitungan satu per
satu dan nilai input counter-nya harus lebih dari satu.
Signal state pada output Q adalah 1 jika menghitung lebih dari nol dan 0
jika menghitung sehingga menjadi nol.
Contoh

Penjelasan
Pada instruksi counter C1, jika set counter bernilai 1 maka dapat
dijalankan Counter Up atau Counter Down jika input diset. Nilai counter
dicontohkan dengan format binary coded decimal ( C#995) jika count up
maka Q124.0 akan bernilai 1, sebaliknya jika count down maka diakhir
perhitungan akan bernilai 0.
Dan begitu pula penerapan pada S_CD dan S_CU.

􀂃 ---( SC )
Symbol
< C no.> nama counter
---( SC)
< preset value > nilai set counter
Penjelasan

---( SC) dieksekusi dan nilainya dapat ditransfer ke suatu counter.
Contoh

Jika I0.0 aktif maka alamat C5 akan aktif sesuai nilai counternya C#100

􀂃 ---( CU )
Symbol
< C no.> nama counter
---( CU )
Penjelasan
---( CU ) dieksekusi sesuai pada alamat counter yang dituju.
Contoh

Penjelasan
Ketika I0.0 aktif maka SC aktif dan jika I0.1 aktif maka C10 dapat di akses
dan untuk mereset jika I0.2

􀂃 ---( CD )
Dan begitu pula penerapan pada ---( CD ) sama dengan --- ( CU )

􀂃 RS ( Reset-Set Flip Flop)
Simbol

Penjelasan :
RS ( Reset-Set Flip Flop) akan me-reset jika signal di R adalah 1 dan 0 di S
input. Jika sebaliknya signal 0 di R dan 1 di S input, maka flip flop di set.
Contoh Aplikasi :

Penjelasan :
Output Q 124.0 akan aktif atau bernilai “1“ jika nilai set (S) I124.1 bernilai
“1“. Walaupun nilai set (S) berubah menjadi “0“ nilai output Q124.0 tetap
“1“. Nilai output Q124.0 bernilai “0“ jika kedua input bernilai “0“ (saat
set belum diaktifkan) atau ketika input I124.0 bernilai “1“ (saat set telah
aktif)
Jika input keduanya bernilai “1“ maka yang mendominasi adalah input set
sehingga nilai outputnya menjadi “1“.

􀂃 SR Set-Reset Flip Flop
Simbol

Penjelasan :
SR (Set-Reset Flip Flop) akan me-set jika signal di R adalah 1 dan 0 di S
input. Jika sebaliknya signal 0 di R dan 1 di S input, maka flip flop di reset.
Contoh Aplikasi :

Penjelasan :
Output Q 124.0 akan aktif atau bernilai “1“ jika nilai set (S) I 124.0
bernilai “1“. Walaupun nilai set (S) berubah menjadi “0“ nilai output Q
124.0 tetap “1“. Nilai output Q 124.0 bernilai “0“ jika kedua input bernilai
“0“ (saat set belum diaktifkan) atau ketika input I 124.1 bernilai “1“ (saat
set telah aktif)
Jika input keduanya bernilai “1“ maka yang mendominasi adalah input
reset (R) sehingga nilai outputnya menjadi “0“.
»»  Baca Selengkapnya...