WELCOME

This is not profesional blog. Just share and learn together. For optimum display please use google chrome browser. Thanks for visiting

Rabu, 30 Januari 2013

Jenis - jenis Sensor (Bagian I)



Dalam kaitannya dengan sistem elektronis, Sensor dan transduser pada dasarnya dapat dipandang sebagai sebuah perangkat atau device yang berfungsi mengubah suatu besaran fisik menjadi besaran listrik, sehingga keluarannya dapat diolah dengan rangkaian listrik atau sistem digital. Berdasarkan variabel yang diindranya, sensor dikatagorikan kedalam dua jenis : sensor Fisika dan sensor Kimia. Sensor Fisika merupakan jenis sensor yang mendeteksi suatu besaran berdasarkan hukum-hukum fisika, yaitu seperti sensor cahaya, suara, gaya, kecepatan, percepatan, maupun sensor suhu.

Sedangkan jenis sensor kimia merupakan sensor yang mendeteksi jumlah suatu zar kimia dengan jalan mengubah besaran kimia menjadi besaran listrik dimana di dalamnya dilibatkan beberapa reaksi kimia, seperti misalnya pada sensor pH, sensor oksigen, sensor ledakan, serta sensor gas.

Berikut adalah beberapa jenis sensor yang dapat umum kita jumpai di lapangan:
1. Sensor Proximity
    Sensor proximity adalah sensor yang mampu mendeteksi keberadaan benda di dekatnya tanpa adanya kontak fisik. Proximity sensor sering memancarkan medan elektromagnetic atau pantulan dari radiasi elektromagnetic. Sensor proximity merupakan sensor atau saklar yang dapat mendeteksi adanya target jenis logam maupun bukan logam dengan tanpa adanya kontak fisik. Yang mendeteksi jenis logam disebut sensor proximity induktif, sedangkan yang mendeteksi bukan logam di sebut proximity kapasitif. Biasanya sensor ini tediri dari alat elektronis solid-state yang terbungkus rapat untuk melindungi dari pengaruh getaran, cairan, kimiawi, dan korosif yang berlebihan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat gambar dibawah ini 
                                                             Gb. Proximity sensor

Gb. Contoh koneksi proximity sensor type PNP

2.Sensor Magnet
    Pada awalnya sensor magnet memungkinkan navigasi atas lautan  dengan merasakan kutub magnet bumi. Penginderaan medan magnet telah sangat diperluas di dunia industri dan telah diadaptasi berbagai sensor magnetik untuk mendeteksi keberadaan, kekuatan, atau arah medan magnetik tidak hanya dari Bumi, tetapi juga dari  magnet permanen, gangguan kendaraan, aktivitas gelombang otak, dan bidang yang dihasilkan dari
arus listrik . Sensor magnetik dapat mengukur sifat tanpa kontak fisik dan telah menjadi kontrol sistem navigasi.
    Sensor Magnet atau disebut juga relai buluh, adalah alat yang akan terpengaruh medan magnet dan akan memberikan perubahan kondisi pada keluaran. Seperti layaknya saklar dua kondisi (on/off) yang digerakkan oleh adanya medan magnet di sekitarnya. Biasanya sensor ini dikemas dalam bentuk kemasan yang hampa dan bebas dari debu, kelembapan, asap ataupun uap.
Sebuah sensor medan magnet langsung dapat merasakan medan magnet dari magnet permanen, elektromagnet, atau arus. Dalam merasakan kehadiran benda besi, magnet biasing sering digunakan. Magnet biasing magnetizes feromagnetik obyek seperti gigi gigi, dan sensor mendeteksi medan magnet gabungan dari magnet obyek dan magnet biasing. Sebuah magnet biasing ditempelkan ke sensor dalam posisi sedemikian rupa sehingga pengaruh langsung terhadap sensor minimal. Biasanya magnet biasing adalah
dipasang di bagian atas sensor dengan sumbu tegak lurus magnet dengan sumbu sensitif dari sensor.

                                                   
                                               Gb. Contoh aplikasi sensor magnet

3. Sensor Sinar
     Sensor sinar terdiri dari 3 kategori. Fotovoltaic atau sel solar adalah alat sensor sinar yang mengubah energi sinar langsung menjadi energi listrik, dengan adanya penyinaran cahaya akan menyebabkan pergerakan elektron dan menghasilkan tegangan. Demikian pula dengan Fotokonduktif (fotoresistif) yang akan memberikan perubahan tahanan (resistansi) pada sel-selnya, semakin tinggi intensitas cahaya yang terima, maka akan semakin kecil pula nilai tahanannya. Sedangkan Fotolistrik adalah sensor yang berprinsip
kerja berdasarkan pantulan karena perubahan posisi/jarak suatu sumber sinar (inframerah atau laser) ataupun target pemantulnya, yang terdiri dari pasangan sumber cahaya dan penerima. Salah satu contoh sederhana dari sensor sinar adalah LDR dan contoh lainnya yang lebih canggih adalah photosensor seperti gambar dibawah ini : 
                                                                   Gb. LDR

Gb. Photosensor


4. Sensor Ultrasonik
    Sensor ultrasonik bekerja berdasarkan prinsip pantulan gelombang suara, dimana sensor ini menghasilkan gelombang suara yang kemudian menangkapnya kembali dengan perbedaan waktu sebagai dasar penginderaannya. Perbedaan waktu antara gelombang suara dipancarkan dengan ditangkapnya kembali gelombang suara tersebut adalah berbanding lurus dengan jarak atau tinggi objek yang memantulkannya. Jenis objek yang dapat diindera diantaranya adalah: objek padat, cair, butiran maupun tekstil.
                                                                 
                                                              Gb. Ultrasonic sensor

5. Sensor Tekanan
    Sensor tekanan - sensor ini memiliki transduser yang mengukur ketegangan kawat, dimana mengubah tegangan mekanis menjadi sinyal listrik. Dasar penginderaannya pada perubahan tahanan pengantar (transduser) yang berubah akibat perubahan panjang dan luas penampangnya.
Strain gauge adalah sebuah contoh transduser pasif yang mengubah pergeseran mekanis menjadi perubahan tahanan. 
Gb. Strain gauge


6. Sensor kecepatan
    Proses penginderaan sensor kecepatan merupakan proses kebalikan dari suatu motor, dimana suatu poros/object yang berputar pada suatui generator akan menghasilkan suatu tegangan yang sebanding dengan kecepatan putaran object. Kecepatan putar sering pula diukur dengan menggunakan sensor yang mengindera pulsa magnetis (induksi) yang timbul saat medan magnetis terjadi.


Gb. RPM sensor

7. Sensor Penyandi (encoder)
    Sensor Penyandi (Encoder) digunakan untuk mengubah gerakan linear atau putaran menjadi sinyal digital, dimana sensor putaran memonitor gerakan putar dari suatu alat. Sensor ini biasanya terdiri dari 2 lapis jenis penyandi, yaitu; Pertama, Penyandi rotari tambahan (yang mentransmisikan jumlah tertentu dari pulsa untuk masing-masing putaran) yang akan membangkitkan gelombang kotak pada objek yang diputar. Kedua,
Penyandi absolut (yang memperlengkapi kode binary tertentu untuk masing-masing posisi sudut) mempunyai cara kerja sang sama dengan perkecualian, lebih banyak atau lebih rapat pulsa gelombang kotak yang dihasilkan sehingga membentuk suatu pengkodean dalam susunan tertentu.
Gb. Encoder

8. Sensor Suhu
    Terdapat 4 jenis utama sensor suhu yang umum digunakan, yaitu thermocouple (T/C), resistance temperature detector (RTD), termistor dan IC sensor. Thermocouple pada intinya terdiri dari sepasang transduser panas dan dingin yang disambungkan dan dilebur bersama, dimana terdapat perbedaan yang timbul antara sambungan tersebut dengan sambungan referensi yang berfungsi sebagai pembanding.
Resistance Temperature Detector (RTD) memiliki prinsip dasar pada tahanan listrik dari logam yang bervariasi sebanding dengan suhu.
Kesebandingan variasi ini adalah presisi dengan tingkat konsisten/kestabilan yang tinggi pada pendeteksian tahanan. Platina adalah bahan yang sering digunakan karena memiliki tahanan suhu, kelinearan, stabilitas
dan reproduksibilitas. Termistor adalah resistor yang peka terhadap panas yang biasanya mempunyai koefisien suhu negatif, karena saat suhu meningkat maka tahanan menurun atau sebaliknya. Jenis ini sangat peka dengan perubahan tahan 5% per C sehingga mampu mendeteksi perubahan suhu yang kecil. Sedangkan IC Sensor adalah sensor suhu dengan rangkaian terpadu yang menggunakan chipsilikon untuk kelemahan penginderanya. Mempunyai konfigurasi output tegangan dan arus yang sangat linear.

Gb. RTD


Gb. RTD PT 100

Gb. Thermocouple

Gb. IC suhu LM 355















Dikutip dari : Bahan ajar Sensor dan Transducer, oleh Iwan Setiawan, ST, MT. (dengan diedit seperlunya tanpa mengurangi makna dan isi)



»»  Baca Selengkapnya...

Selasa, 29 Januari 2013

Contoh Program PLC Omron dengan Software CX-One

Setelah beberapa postingan kita coba mempelajari dasar2 PLC Siemens S7, maka pada postingan kali ini saya akan mencoba memberikan postingan mengenai contoh program sederhana menggunakan software CX-One beserta dengan simulasinya. Sebelum mencoba, pastinya syarat utamanya adalah kita telah mempunyai software CX-One tersebut. Baiklah, langsung saja ke pokok permasalahan heheheheh.....

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1. Pada window utama klik start dan all program
2. Klik omron
3. Klik CX-One
4. Klik CX-Programmer
5. Klik Cx- Programmer



Setelah itu kemudian layar kerja CX-Programmer akan terbuka, kemudian ikuti langkah sebagai berikut :
1.Klik New
2. Pilih Type PLC yang diinginkan, pada contoh kali ini kita menggunakan CJIM cpu no. 23


Setelah kita tentukan PLC yang diinginkan, langkah selanjutnya adalah :
1. Klik simbol kontak NO
2. Isikan alamatnya, misalkan 0.00, maka anda cukup mengketikkan 0
3. Klik OK, kemudian isikan comment, bisa diisi sembarang sesuai keinginan, karena tujuannya untuk memudahkan membaca program yang kita buat, namum dalam contoh kali ini saya isikan "RUN"



Selanjutnya buatlah program seperti gambar dibawah, kemudian jangan lupa klik END


Setelah anda klik END, maka tampilanya akan seperti dibawah ini. Jika anda ingin kembali ke layar semula, klik "Section"


Program sederhana telah selesai kita buat, selanjutnya adalah kita buka CX-Simulatornya. Caranya adalah kita kembali ke window utama seperti gambar dibawah ini :



Kemudian check list select PLC dan klik OK, seperti gambar dibawah:


Kemudian Klik Next seperti gambar dibawah:

Saya kira tidak perlu uraian panjang lebar lagi, langsung ikutin gambarnya dibawah ini step by step dan klik  yang saya lingkari dengan warna merah









Kemudian klik connect, dan hasilnya akan seperti dibawah ini. Jika lampu Network menyala kedip artinya PLC kita sudah connect.




Selanjutnya kita kembali lagi ke layar CX-Programmer dan klik simulation dan ON kan seperti gambar berikut:


Setelah kita klik work online simulator, maka program yang kita buat akan didownload ke PLC simulator, dan jika berhasil akan tampil seperti gambar berikut :

Selanjutnya adalah kita ON kan kontak NO dengan cara di force, yaitu klik kana pada kontak RUN dan kemudian klik force lalu klik ON. Karena Program yang kita buat diatas kontak RUN adalah berperan sebagai saklar pushbutton, maka setelah ON kemudian di OFF kembali.



Jika berhasil maka LAMP ON akan tetap menyala meskipun kontak RUN telah kita OFF. Untuk lebih jelasnya lihat gambar dibawah :



Oke sobat, cukup sekian, selamat mencoba dan semoga berhasil serta bermanfaat.  Salam share and learn together........
»»  Baca Selengkapnya...

Senin, 28 Januari 2013

Pemograman PLC Siemens S7 dengan STL (Comparison Instruction)

                                              Metode Pemograman dengan STL (Statement List)

I.Gambaran umum mengenai perintah comparison
ACCU 1 (accumulator 1) dan ACCU 2 (accumulator 2) nilai datanya dibandingkan sesuai dengan jenis perbandingan data yang dipilih :
- = = ACCU 1 sama dengan ACCU 2
- <>  ACCU 1 tidak sama dengan ACCU 2
-  >   ACCU 1 lebih besar dibandingnkan dengan ACCU 2
- <    ACCU 1 lebih kecil dibandingkan dengan ACCU 2
- >=  ACCU 1 lebih besar atau sama dengan ACCU 2
- <=  ACCU 1 lebih kecil atau sama dengan ACCU 2


Jika nilai perbandingan tersebut betul sesuai dengan type perbandingannya, maka RLO (relay logic operations) akan bernilai 1. Ada beberapa perintah comparasion sebagai berikut :
1. Compare integer (16 bits)
     Perintah compare integer (16 bit) membandingan nila data di ACCU 2 dan nila data di ACCU1. Hasil dari nilai perbandingan diindikasikan dengan nilai RLO. RLO bernilai 1 jika hasil perbandingannya benar dan RLO bernilai 0 jika perbandingannya salah. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dibawah ini :



Contoh :


Penulisan program                     Penjelasan
L       MW10                    //Load contents of MW10 (16-bit integer).
L        IW24                   //Load contents of IW24 (16-bit integer).
>I                                   //Compare if ACCU 2-L (MW10) is greater (>) than ACCU 1-L (IW24).
= M 2.0                           //RLO = 1 if MW10 > IW24.

2. Compare Double integer (32 bits)
     Penjelasan dan fungsinya hampir sama dengan penjelasan yang di atas, hanya saja nilai datanya saja yang berbeda. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dibawah ini :

Contoh :

Penulisan program                 Penjelasan
L MD10                     //Load contents of MD10 (double integer, 32 bits).
L ID24                      //Load contents of ID24 (double integer, 32 bits).
>D                              //Compare if ACCU 2 (MD10) is greater (>) than ACCU 1 (ID24).
= M 2.0                      //RLO = 1 if MD10 > ID24

3. Compare floating point (bilangan REAL) 32 bits
    Penjelasan dan fungsinya juga hampir sama dengan yang di atas, hanya saja nilai data/ jenis data yang berbeda. 

Contoh : 
Penulisan program           Penjelasan
L MD10                //Load contents of MD10 (floating-point number).
L 1.359E+02        //Load the constant 1.359E+02.
>R                       //Compare if ACCU 2 (MD10) is greater (>) than ACCU 1 (1.359-E+02).
= M 2.0               //RLO = 1 if MD10 > 1.359E+02.






Dikutip dari : Instruction manual PLC Siemens (dengan diedit seperlunya tanpa mengurangi makna dan isi)





»»  Baca Selengkapnya...

Simbol - simbol logika


Dibawah ini adalah daftar simbol simbol yang umum digunakan dalam rangkaian logika : 






Dikutip dari : American Technical Publisher




»»  Baca Selengkapnya...

Pemograman PLC Siemens S7 dengan STL (Bit Logic Instructions)

                   Metode Pemograman PLC dengan STL (Statement List)

1. A (and)
                             Contoh :                      Gambar Relay Logic                              


                           Penulisan Program : A    I1.0
                                                             A     I1.1
                                                             =     Q4.0

2. AN (and not)
                           Contoh :                             Gambar Relay Logic


                                  Penulisan program : A         I1.0
                                                                    AN       I1.1
                                                                     =         Q4.0

3. O (or)
                   Contoh :                          Gambar Relay Logic

                                 Penulisan program :    O          I1.0
                                                                       O           I1.1
                                                                       =           Q4.0

4. ON (or not)
                  Contoh :                             Gambar Relay Logic

                                Penulisan program :    O           I1.0
                                                                     ON         I1.1
                                                                      =           Q4.0

5. X (exclusive or)
                  Contoh :                            Gambar Relay Logic

                               Penulisan program :    X             I1.0
                                                                    X             I1.1
                                                                     =             Q4.0

6. XN (exclusive or not)
                  Contoh :                          Gambar Relay Logic


                          Penulisan program :   X         I1.0
                                                              XN       I1.1
                                                               =          Q4.0


7. O (and before or)
                       Contoh :                             Gambar Relay Logic


                                  Penulisan program : A        I1.0
                                                                    A        M10.0
                                                                    O
                                                                     A       I0.2
                                                                    A        M0.3
                                                                    O        M10.1
                                                                     =        Q4.0
                                                                     


8. A(  (and with nesting open)
                     Contoh :                            Gambar Relay Logic

                            Penulisan program :  A(
                                                                O                I0.0
                                                                O                M10.0
                                                                 )
                                                                A(
                                                                O                I10.2
                                                                O                M10.3
                                                                 )
                                                                 A               M10.1
                                                                 =               Q4.0

9. R (reset) dan S (set)
          Contoh :                                                  Gambar Relay Logic


Diagram Signal State

                           Penulisan program :  A            I1.0
                                                              S             Q4.0
                                                              A             I1.1
                                                              R             Q4.0

10. FN (edge negatif )
      Cara kerjanya adalah mendeteksi perubahan signal bit 1 ke signal bit 0. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat definisi gambar dibawah ini : 
Contoh : Jika PLC mendeteksi perubahan signal di contact I1.0, akibatnya akan meng energize (mengaktifkan) coil Q4.0 selama 1 cycle scan OB 1

11. FP (edge positif)
      FP adalah kebalikan dari FN yaitu mendeteksi perubahan signal bit 0 ke signal bit 1, untuk lebih jelasnya bisa langsung di lihat signal state diagramnya dibawah ini : 












Dikutip dari : Manual Instruction PLC Siemens (dengan diedit seperlunya tanpa                                              mengurangi makna dan isi)








»»  Baca Selengkapnya...

Rabu, 21 November 2012

Pengertian SCADA (Supervisory Control And Data Acquisition)

SCADA (Supervisory Control And Data Acquisition) adalah sistem yang mengacu pada kombinasi telemetri dan akuisisi data. Ini terdiri dari pengumpulan informasi, mentransfer kembali ke  pusat kendali, melakukan analisis yang diperlukan dan kontrol, dan kemudian menampilkan data ini pada sejumlah operator display. SCADA digunakan untuk memantau dan mengendalikan pabrik atau peralatan. Kontrol mungkin dapat otomatis atau dapat dimulai dengan perintah Operator.

Telemetri biasanya dikaitkan dengan sistem SCADA. Ini adalah teknik yang digunakan dalam transmisi dan menerima informasi atau data melalui media. Informasi dapat berupa pengukuran, seperti tegangan, kecepatan atau aliran. Data-data tersebut dikirimkan ke lokasi lain melalui media seperti kabel, telepon atau radio. Informasi dapat berasal dari berbagai lokasi. Sebuah cara menangani tempat-tempat  yang berbeda yang tergabung dalam sistem.

Data akuisisi mengacu pada metode yang digunakan untuk mengakses dan mengontrol informasi atau data dari peralatan yang dikendalikan dan dipantau. Data tersebut kemudian diakses diteruskan ke sistem telemetri siap untuk transfer ke tempat yang berbeda. Itu dapat berupa informasi analog dan digital yang dikumpulkan oleh sensor, seperti flowmeter, ammeter, dll juga dapat menjadi data untuk mengontrol peralatan seperti aktuator, relay, valve, motor, dll.

Mirip dengan sistem SCADA adalah Distributed Control System (DCS).  DCS biasanya digunakan di pabrik-pabrik dan terletak di dalam daerah yang lebih terbatas. Menggunakan media komunikasi berkecepatan tinggi, seperti jaringan area lokal (LAN). Sebuah jumlah yang signifikan dari kontrol loop tertutup hadir pada sistem SCADA system meliputi daerah yang besar (secara geography). Ini mungkin mengandalkan berbagai link komunikasi seperti radio dan telepon. Kontrol loop tertutup bukan merupakan prioritas utama dalam sistem ini.

Komponen Scada
Komponen sistem SCADA terdiri sebagai berikut :
    1.Field Instrumentation
    Field instrument mengacu pada sensor dan aktuator yang langsung dihubungkan ke pabrik atau peralatan.      Mereka menghasilkan sinyal analog dan digital yang akan dipantau oleh Stasiun Remote. Sinyal juga dikondisikan untuk memastikan mereka yang kompatibel dengan input / output dari RTU (Remote Terminal Unit) atau PLC di Stasiun Jarak Jauh. Stasiun Remote dipasang di pabrik terpencil atau peralatan yang dipantau dan dikendalikan oleh komputer host pusat. Ini bisa jadi RTU atau Programmable Logic Controller (PLC). Jaringan Komunikasi adalah media untuk mentransfer informasi dari satu lokasi ke lokasi lain. Hal ini dapat melalui telepon, radio line atau kabel.

Central Monitoring Station  (CMS) mengacu pada lokasi master atau komputer host. Workstation beberapa dapat dikonfigurasi pada CMS, jika di perlukan. Menggunakan Human Machine Interface (HMI) program untuk memonitor berbagai data jenis yang diperlukan untuk operasi. Berikut ini adalah contoh konfigurasi dari sistem SCADA untuk distribusi air.


Field Instrument mengacu pada perangkat yang terhubung ke peralatan atau mesin yang dikontrol dan dipantau oleh sistem SCADA. Ini adalah sensor untuk memantau parameter tertentu, dan aktuator untuk mengendalikan modul tertentu dari sistem.
Instrumen ini mengkonversi parameter fisik (misalnya, aliran fluida, kecepatan, tingkat cairan, dll) ke sinyal listrik (misalnya, tegangan atau arus) dapat dibaca oleh peralatan Station Remote. Output dapat berada dalam analog (kisaran terus menerus) atau digital (nilai diskrit). Beberapa output standar industri analog  sensor ini adalah berkisar 0 sampai 5 volt, 0 sampai 10 volt, 4 sampai 20 mA dan 0 sampai 20 mA. Output tegangan digunakan ketika sensor dipasang di dekat pengendali (RTU atau PLC). Output  ini digunakan ketika sensor berada jauh dari kontroler. Output digital digunakan untuk membedakan status diskrit perangkat. Biasanya, <1>  berarti Perangkat ON dan <0> untuk status perangkat OFF . Ini juga berarti <1> untuk Full atau <0> untuk Kosong

Aktuator digunakan untuk menghidupkan atau mematikan peralatan tertentu. Demikian juga, input digital dan analog yang digunakan untuk kontrol. Misalnya, digital input dapat digunakan untuk menghidupkan dan mematikan modul pada peralatan. Sementara input analog yang digunakan untuk mengontrol kecepatan motor atau posisi valve motorized.

   2. Remote Station
        Field instrumen terhubung ke pabrik atau peralatan yang dipantau dan dikontrol yang dihubungkan ke Stasiun Remote untuk memungkinkan manipulasi proses pada lokasi yang jauh. Hal ini juga digunakan untuk mengumpulkan data dari peralatan dan mentransfernya ke sistem SCADA pusat. Stasiun remote baik mungkin berupa RTU (Remote Terminal Unit) atau PLC (Programmable Logic Controller). Ini juga mungkin berupa sistem boar atau modular.
RTU adalah sebuah komputer ruggedized dengan interfacing radio yang sangat baik. Hal ini digunakan dalam situasi di mana komunikasi yang lebih sulit. Salah satu kelemahan dari RTU adalah programmability yang kurang. Namun, RTUsmodern sekarang menawarkan programabilitas baik dibandingkan dengan PLC.
PLC (Programmable Logic Controller) adalah sebuah komputer industri kecil biasanya ditemukan di pabrik-pabrik. Kegunaan utamanya adalah untuk menggantikan logika relay dari pabrik atau proses. Saat ini, PLC digunakan dalam sistem SCADA karena programabilitas yang sangat baik. Sebelumnya PLC tidak memiliki port komunikasi serial untuk interfacing ke radio untuk mentransfer data. Saat ini, PLC memiliki komunikasi yang luas.
Dalam waktu dekat kita melihat penggabungan dari RTU dan PLC. Micrologic menawarkan sebuah RTU murah untuk sistem SCADA dimana PLC dapat menjadi solusi lebih. Ini adalah RTU berbasis mikrokontroler dan dapat dihubungkan ke modem radio untuk transmisi data ke CMS.

Stasiun Remote biasanya tersedia dalam dua jenis, yaitu single board dan unit modular. Single board menyediakan sejumlah interface input / output (I / O) tetap. Hal ini lebih murah, tetapi tidak menawarkan  kemudahan upgrade ke sistem yang lebih canggih. Jenis modular merupakan remote station yang dapat diperluas dan lebih mahal daripada single board. Biasanya digunakan untuk menghubungkan modul. Setiap modul I / O atau komunikasi yang dibutuhkan untuk ekspansi di masa yang akan datang dapat dengan mudah di pasang.

3. Comunication Network
     Jaringan Komunikasi mengacu pada peralatan komunikasi yang diperlukan untuk mentransfer data ke dan dari lokasi yang berbeda. Media yang digunakan dapat berupa kabel, telepon atau radio. Penggunaan kabel biasanya dilakukan di dalam  pabrik. Hal ini tidak praktis untuk sistem yang mencakup wilayah geografis yang luas karena biaya kabel tinggi, saluran dan tenaga kerja yang luas untuk menginstalnya.
Penggunaan saluran telepon (misalnya leased atau dial-up) merupakan solusi murah untuk sistem dengan cakupan yang besar. Leased line digunakan untuk sistem on-line yang membutuhkan koneksi dengan stasiun terpencil. Ini mahal karena satu saluran telepon akan dibutuhkan per lokasi. Selain lease line lebih mahal daripada saluran telepon biasa. Dial-up lines dapat digunakan pada sistem yang membutuhkan update secara berkala (misalnya, update per jam). Saluran telepon di sini biasa dapat digunakan. Host station dapat menghubungi nomor tertentu dari sebuah situs remote untuk mendapatkan pembacaan dan mengirim perintah. Situs remote biasanya tidak dapat diakses oleh saluran telepon. Penggunaan radio menawarkan solusi ekonomis. Modem radio digunakan untuk menghubungkan situs remote ke host. Sebuah operasi on-line juga dapat diterapkan pada sistem radio. Untuk lokasi di mana link radio langsung tidak dapat dibuat, repeater radio digunakan untuk menghubungkan lokasi lokasi tersebut.

 4. CMS (Central Monitoring system)
     Central Monitoring System  (CMS) adalah unit master dari sistem SCADA. Hal ini bertugas mengumpulkan informasi yang dikumpulkan oleh remote station dan menghasilkan tindakan yang diperlukan untuk setiap event terdeteksi.  CMS dapat memiliki konfigurasi komputer atau dapat jaringan untuk workstation untuk memungkinkan berbagi informasi dari sistem SCADA
Sebuah Program Human Machine Interface (HMI) akan berjalan pada komputer CMS. Sebuah alur diagram  dari seluruh plant atau proses dapat ditampilkan pada layar untuk identifikasi lebih mudah dengan sistem real. Setiap titik I / O dari unit remote dapat ditampilkan dengan representasi grafis yang sesuai dan pembacaan I / O. Pembacaan flow (aliran) dapat ditampilkan pada sebuah representasi grafis dari sebuah flowmeter. Satu bendungan dapat ditampilkan dengan isi cairan yang sesuai tergantung pada tingkat tangki yang sebenarnya.
Set-up parameter seperti nilai-nilai perjalanan, batas, dll dimasukkan pada program ini dan download ke unit remote yang sesuai untuk memperbarui parameter operasi mereka.
Program HMI juga dapat membuat window terpisah untuk alarm. Window alarm dapat menampilkan nama alarm tag, deskripsi, nilai, nilai titik perjalanan, waktu, tanggal dan informasi terkait lainnya. Semua alarm akan disimpan pada file terpisah untuk diperiksa nanti.

Sebuah tren poin yang dibutuhkan dapat diprogram pada sistem. Tren grafik dapat dilihat atau dicetak di lain waktu. Generasi laporan manajemen juga dapat dijadwalkan untuk waktu tertentu dalam sehari, secara periodik, atas permintaan operator, atau  saat alarm.
Akses ke program ini hanya diperbolehkan untuk operator yang memenuhi syarat (hak). Setiap user diberikan password dan tingkat hak yang berbeda beda untuk mengakses daerah tertentu dari program ini .. Semua tindakan yang diambil oleh para pengguna yang login pada file untuk dapat diperiksa nantinya.



                             Contoh Tampilan HMI untuk diagram sistem pemipaan dan are perbaikan (repair)









Dikutip dari  : CompuSytem (Engineering Training Center Service)
Translated by : Teguh E S (dengan diedit seperlunya tanpa mengurangi makna dan isi)

»»  Baca Selengkapnya...

Selasa, 20 November 2012

Pengenalan ATS (Automatic Transfer Switch)


Dewasa ini kebutuhan akan sumber energi yang berkesinambungan tidak dapat terhindarkan. Kondisi beban pemakaian yang menuntut selalu aktif dalam segala kondisi termasuk ketika PLN atau sumber utama daya listrik mengalami pemadaman.

Generator Set (Genset) telah berperan cukup vital dalam menyediakan kebutuhan sumber daya alternatif. Dalam beberapa tahun lalu pengoperasian Genset cukup hanya mengandalkan operator dalam pengoperasiannya. Tetapi kebutuhan akan sumber daya yang membutuhkan kesiapan penuh membutuhkan suatu alternatif Operasional yang telah otomatis.
Teknologi Otomatis telah dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi dan keamanan dalam operasional mesin genset. Tujuan otomatisasi mesin genset adalah untuk mengurangi down time dan kebutuhan akan operator yang mempunyai keterbatasan waktu.

Teknologi yang digunakan merupakan teknologi tepat guna, dimana teknologi ini merupakan kreasi dari hasil pengalaman dan pengetahuan selama ini. Cara operasional sangat sederhana dan mudah digunakan agar semua pengguna mengerti dan tidak memerlukan keterampilan yang khusus.
Dalam ruang lingkup sumber daya listrik dikenal dengan 4 (empat) Panel utama yaitu :
1.      Panel Induk Utama (PLN)
   Panel Induk Utama adalah panel yang menjadi sumber utama daya yang akan digunakan
2.      Panel ATS/AMF
   Panel ATS/AMF adalah panel yang digunakan untuk mengatur perpindahan daya
3.      Panel Genset
   Panel Genset adalah panel yang dayanya bersumber dari genset dan merupakan alternatif daya.
   4.      Panel Distribusi 
      Panel Distribusi adalah panel untuk membagi daya ke seluruh beban pengguna.

        Gb Skema antar panel

Bagian bagian modul ATS/ AMF (Automatic Main Failure)

Modul AMF berfungsi sebagai pengontrol genset. Dengan cara kerja secara singkat adalah  ketika PLN mengalami pemadaman maka modul ini akan memerintahkan untuk melakukan starting mesin genset, setelah mesin genset berfungsi maka daya akan dialirkan ke beban, ketika PLN aktif kembali maka modul ini akan melakukan pendinginan mesin dan kemudian melakukan proses mematikan mesin genset. Pada Modul terdapat 7 tombol + 10 Lampu indicator fungsi
Fungsi dan keterangan :
TOMBOL.
OFF    : untuk mematikan Modul AMF
AUTO  : untuk memfungsikan modul kedalam system AUTO atau MANUAL, jika lampu indicator menyala maka mode adalah Otomatis dan jika lampu indicator mati maka Mode adalah manual. Pada model Manual maka tombol PLN dan GENSET berfungsi untuk memindahkan sumber daya, tetapi jika mode auto maka tombol PLN dan GENSET tidak berfungsi.
TEST : Untuk melakukan tes generator, waktu test ditentukan oleh modul tetapi dapat dipilih dalam beberapa mode waktu.
RESET: Untuk melakukan reset fungsi modul. Berfungsi pada saat modul tidak berhasil menghidupkan Genset setelah mencoba beberapa kali start.
HORN: Untuk mematikan Alarm sementara.

INDIKATOR
PLN :  Indikator PLN AKTIF
CLOCK : idikator system timer berfungsi dengan baik
TEST : indicator modul berada dalam posisi sedang test genset
STFAIL : indicator starting mesin Gagal
TEMP, ALARM, OIL, HP dan SPEED : indicator aktif Alarm
HORN : indicator horn (Alarm dengan suara) Aktif
GENSET : Indikator Genset Aktif
START : Indikator modul sedang starting Genset

Cara Pengoperasian
Dalam operasional ATS/AMF terdapat beberapa jenis operasi yang dapat dilakukan yaitu :
-         Start UP
-         Mode Auto
-         Mode Manual
-         Test
   -  Reset

START UP

Proses Start Up dilakukan pada saat pertama kali modul AMF beroperasi.Tombol Fungsi OFF ditekan hingga indicator disampingnya menyala. Indikator yang menyala adalah PLN, Clock berkedip menandakan system timer berfungsi untuk melakukan prosedur pendinginan mesin.




MODE AUTO

Proses modeauto dilakukan setelah Start UP dilakukan kurang lebih 3 s/d 5 menit. Pada operasi ini modul AMF telah berfungsi dalam mode Auto, yaitu ketika PLN Padam maka akan melakukan Start Mesin dan melakukan transfer beban, begitu pula sebaliknya jika PLN menyala kembali maka akan melakukan proses pendinginan mesin.Tombol Fungsi AUTO ditekan hingga indicator disampingnya menyala.
Pada saat PLN Aktif :
Indikator yang menyala adalah PLN, Clock berkedip
Pada Saat GENSET Aktif :
Indicator yang menyala adalah GENSET

MODE  MANUAL

Proses manual dilakukan untuk melakukan test beban pada genset, atau jika fungsi auto tidak berfungsi dengan baik. Jika indicator auto tidak menyala berarti telah masuk mode manual. Dengan mode manual maka tombol PLN dan GENSET dapat difungsikan dengan syarat kedua sumber tegangan aktif, jika hanya salah satu maka beban tidak bisa di pindah.
Tombol Fungsi AUTO ditekan hingga indicator disampingnya mati.
Indicator yang menyala adalah PLN,CLOCK berkedip, GENSET.

TEST

TEST dilakukan untuk melakukan pemanasan pada GENSET, dengan aktifnya fungsi TEST maka Mesin akan Starting (Indikator START aktif) dan GENSET akan menyala (Indikator GENSET aktif). Lama waktu pengetesan ditentukan oleh Modul AMF.  Standar waktu pengetesan adalah 2 s/d 8 Menit.
Tombol Fungsi TEST ditekan hingga indicator disampingnya aktif.
Indikator yang menyala adalah PLN, CLOCK berkedip, TEST, GENSET. 

RESET

RESET dilakukan untuk menghilangkan alarm yang diakibatkan oleh gagalnya proses starting Mesin ketika PLN Padam atau pada saat TEST.
Tombol Fungsi TEST ditekan hingga indicator disampingnya aktif
Indicator yang menyala sebelum RESET ditekan adalah ALARM,HORN, ST FAIL.
Indicator yang menyala setelah RESET ditekan adalah START atau TEST ketika sedang melakukan Proses TEST.








Di kutip dari : Manual Book ATS/ AMF Model AMFNY-150K
                Dengan diedit seperlunya tanpa mengurangi makna dan isi.




»»  Baca Selengkapnya...